an untold story

(jika satu tambah satu sama dengan dua)

"Hm.. bintang yang selama ini aku tatap ternyata Ia tak pernah membalas tatapanku"
Begitu kiranya Satu mengungkapkan kekesalannya pada malam itu, pantas saja Ia begitu terlihat sedih, satu-satunya orang yang selalu mengisi hatinya, Dua, dia dengan jelas (ketika Satu mengutarakan perasaannya) mengatakan:
"Maafkan Dua jika keputusan ini akan sangat berat dirasakan, memang yang namanya cinta tidak akan pernah bisa dipaksakan, Dua sudah punya tambatan hati yang lain, maaf ya Satu"

Hati yang hancur, perasaan terabaikan, harapan tak berujung, semua seperti melebur menjadi satu, terngiang-ngiang dibenak Satu. Ia jadi tak punya gairah lagi untuk hidup, sepertinya hiperbolis, tapi sepertinya juga realistis.

"Tak bisakah kau mengambil satu hikmah pun dari kejadian ini kawan..?"
Tanya Tiga yang sedari tadi merasa iba dengan kondisi Satu.

"Apa lagi yang bisa kuambil Ga..? Harapan yang hanya berujung pada kekecewaan..?"
"Sudah lah, aku sedang tidak ingin berpikir tentang itu, aku ingin sendirian dulu, jika kamu masih ingin disini, tetaplah diam dan jangan bicara sepatah katapun" Satu jengkel.

"Ok.. Tapi tak maukah kau mendengar ceritaku Sat..?"
Tiga tahu meskipun Satu berkata tak mau diganggu siapapun, tapi sebenarnya Ia sangat butuh teman untuk berbagi. Tiga yang memang terkenal pandai bercerita pasti akan menawarkan cerita-ceritanya kepada siapapun yang ingin mendengarkan.

Satu berpikir sejenak, "Bolehlah, coba ceritakan itu padaku"
Mungkin dengan ini Ia dapat sejenak melupakan masalahnya

"Baiklah" Tiga memulai ceritanya..

0 footprint:

ku tak tau apa isi hatimu, so bicaralah...