sebuah ketidakjelasan

(pemikiran yang kurang baik tentang takdir tuhan)

Pada suatu kesempatan, tadi malam, saya memperdebatkan "takdir" bersama my n***h, (saya sebut) beliau merasa keberatan dengan tuhan yang selalu seenaknya sendiri membolak-balikkan jalan manusia. Kalau ada orang buta disuruh memilih antara jalan A dan B, jalan A ternyata jurang, jalan B ternyata mulus-mulus saja, orang buta sama sekali tidak tahu mengenai hal itu, lantas kalau tiba-tiba orang buta itu memilih jalan B dan selamat, apakah itu bukan namanya pertolongan tuhan..? Sementara ketika ada orang tidak buta, juga sama-sama tidak tahu, malah memilih jalan A dan mati disana, apakah itu juga namanya pemelesetan tuhan..? Tidak adil rasanya tuhan yang seperti itu (menurut beliau)..

Saya katakan tuhan itu lebih dari maha tahu dan tidak akan pernah salah menentukan takdir pada manusia, karena Ia juga lebih dari maha tahu tentang apa saja yang akan dilakukan oleh manusia di dunia ini. Tuhan menentukan takdir manusia itu tidak sembarangan kawan, Ia pasti sudah melakukan penelitian jauh-jauh sebelum memberikan keputusan final itu, Ia menentukan sebuah takdir pada manusia itu tergantung pada apa saja yang dilakukan oleh manusianya sendiri, saya katakan tuhan mutlak tidak ikut campurtangan dalam hal ini. Ia hanya melihat dan kita yang menentukan..

Lantas kalau semacam itu dimana kehebatan tuhan, ko gur deloki tok ngunu..? Analoginya seperti ini, ada dua orang masing-masing menciptakan komputer, si-A menciptakan komputer yang ternyata kalau tidak dipencet dan dijalankan komputer itu tidak bisa bekerja sendiri. Sedangkan si-B bisa menciptakan komputer yang tanpa dipencet dan dijalankan, komputer itu bisa bekerja sendiri. Lebih hebat manakah si-A atau si-B..? Begitu juga tuhan, Ia hebat sekali bisa menciptakan manusia yang bisa bekerja sendiri, bahkan menentukan takdirnya sendiri.. He..

Pada suatu kesempatan lain, ust. Roy pernah menukilkan sebuah kalimat karya Ibnu Athoillah dalam kitab Al-Hikam, seperti ini "sawabiqul himami la takhruqu aswarol aqdari". Menurut saya maksudnya "sekuat apapun cita-cita kita dan keingingan kita ternyata tidak akan pernah bisa meruntuhkan sebuah tembok yang bernama takdir". Lha bagaimana mau meruntuhkan tembok takdir, orang kita juga yang membangunnya sendiri.. Bukankah begitu..?

2 komentar:

  1. ada hikmah yang dapat kita ambil dari takdir atau musibah yang kita dapattemukan hikmah yang tersembunyi,,,, ( manusia yang blom taw hakikat ketuhanan yang sebenarnya)

    BalasHapus
  2. bahasane "Ia pasti sudah melakukan penelitian jauh-jauh sebelum memberikan keputusan final itu",, emange dirimu mbah,, ndadak meniliti2...hiihihi

    BalasHapus

ku tak tau apa isi hatimu, so bicaralah...