dua puluh satu

"kurangi beban itu, tetap lihat kedepan.."
Lagu dara-nya Ariel masih mengalir begitu saja lewat hedset yang terpasang di telingaku, keluar dari hapeku SE J108i, merdu memang, menambah suasana dipagi ini semakin berbeda saja. Iya pagi ini terasa berbeda bagiku. Padahal matahari yang kulihat dari balik jendela kamarku masih sama seperti matahari kemarin, kebetulan kamarku berada dilantai dua, jadi mudah saja bagiku melihat matahari bersinar diluar sana, sinar hangatnya masih juga bisa menembus jendela dan sedikit banyak memberikan aku dalam tanda kutip kehangatan. Dibawah sana, aku lihat ust Roy juga masih seperti biasanya, me-ndolani anaknya Zahra lewat keranjang bayi modern yang punya roda empat di kakinya, dibawa kemana-mana, muter-muter halaman asramaku, Ponpes UII.

Disana, disuatu tempat lain, seorang wanita baru saja menutup telponnya, berpesan "nanti bangunin aku ya mas, jam setengah tujuh, mau bobo ne, ngantuuk banget" Sontak saja aku teringat, sekarang jam di VanBook-ku sudah menunjukkan 06.33. Aku tau pesan itu Ia tujukan padaku, langsung saja aku ambil hape, kumatikan sejenak music player-nya, kutelpon dia. Jawabannya "Lufie g jd bobo s***g.. kyx g jg kul jg, he..". Tak apa-apa kalau memang ga jadi tidur batinku, yang aku takutkan kalau Ia tidur pagi-pagi begini ga bisa bangun, aku tahu dia punya jadwal kuliah jam 7. Eh, malah Ia batalkan semuanya, tidur-nya juga kuliah-nya. Mungkin Ia memang mengantuk berat, update status-nya mengatakan bahwa semalam tadi insomnia, gejala tidak bisa tidur ditengah malam.

Sebelum itu, sedikit sadar kalau ternyata ini dalam mimpi. Seorang tukang pos datang kerumahku, membawa beberapa pucuk surat. Surat yang Dia bawa tertulis namaku di pojok kanan bawah, "Kepada Yth. Achmad Nurdany.. di Tempat". Entah saking banyaknya surat itu aku pun tidak tahu masing-masing siapa yang mengirimkannya. Ada yang aneh, kuperhatikan bentuk suratnya, basah, sobek-sobek, rusak, beberapa bahkan isi suratnya sudah hilang. Jadi percuma saja, surat-surat itu tidak pernah bisa kutahu isinya apa, juga pengirimnya siapa. Sampai ketika aku terbangun, masih saja kau tak bisa mencerna apa maksud dari semua ini, mimpi.

01.36 aku terbangun, diatas ranjang kulihat hapeku banyak sekali "new events" ada dua pesan, enam panggilan tidak terjawab, satu pemberitahuan, ya banyak sekali. Diatas bantal, laptop-ku tergeletak mati, tapi masih terbuka, padahal aku ingat betul, waktu kutinggal tidur, Ia masih menyala, pasti automatic shut-down batinku. Masih dengan mata yang berat, mengantuk, aku baca semuanya "event-event" di hapeku itu. Ada pesan yang spesial bagiku, datang dengan ucapan "happy birth day my prince", lantas begitu saja membuatku tersenyum ^_^

Tepat dipergantian hari, jam 00.00 di tanggal 25 Mei 2011, seorang wanita sibuk memencet tombol "call" di hapenya, berkali-kali, namun sepertinya ia agak kecewa, tidak ada jawaban. Akhirnya Ia tulis sebuah pesan, "s***g, udah bobo ya..? (....some text sensored...)" lalu "kirim". Setelah itu masih Ia coba lagi menekan tombol "call" yang sama, namun hasilnya nihil, tidak ada jawaban.

Sementara di waktu yang sama, aku masih terlelap, suara-suara nyaring hapeku yang berbunyi berkali-kali tetap tidak mampu membangunkan aku. Suara panggilan masuk yang berkali-kali juga pesan masuk dan pemberitahuan itu sama sekali tidak terdengar olehku. Dan, masih dengan ketidak-sadaranku, sepertinya waktu berjalan konsisten, Ia memapahku menuju usia yang kedua-puluh-satu. Pelan-pelan..

[sebuah epilog]
..bahwa
..kau lebih dari indah dalam hati ini
..lewat lagu ini ku ingin kamu mengerti
..aku s****g kamu kuingin bersamamu

nikita willy (lebih dari indah)

0 footprint:

ku tak tau apa isi hatimu, so bicaralah...