konsisten dan fleksibel

Islam merupakan agama rahmatan lil alamin, ditengah segala keadaan seharusnya mampu menjadi replika dari sebuah agama yang konsisten sekaligus fleksibel. Tidak menjadi agama –yang selama ini dianggap sebagian orang sebagai agama yang- radikalis, saklek, bahkan sampai pada taraf agama teroris. Konsisten berarti selalu memegang teguh terhadap prinsip yang ada dimana pelaksanaan praktek harus sejalan dengan teorinya. Namun tidak hanya itu yang dibutuhkan, karena dituntut untuk sholihun likulli zamanin wa makanin maka Islam haruslah fleksibel, sesuai dengan konteks yang ada, harus menjadi agama yang tepat pada zaman dan waktu yang tepat.
Dua hal diatas tentunya akan sangat dibutuhkan oleh Islam dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Islam yang fleksibel namun masih tetap konsisten merupakan impian yang dalam tanda kutip masih sangat sulit tercapai. Bagaimana tidak, Islam yang secara teori demikian dahsyatnya ternyata tidak demikian dengan prakteknya. Anggapan masyarakat dunia terhadap Islam lebih dominan bersifat negative dari pada positif, mengutip kata-kata seorang ulama terkemuka kontemporer, Beliau berkata demikian “al-Islamu mahjubun bil muslimin” yang kurang lebih artinya agama Islam (yang baik) ini tertutup dengan -kelakuan pengikutnya- muslimin (yang kurang baik).
Islam historis dan Islam normatif sepertinya memang harus di bedakan, namun tidak menutup kemungkinan konsistensi dan fleksibilitas yang telah dijelaskan diatas mampu menyatukan kedua unsur tersebut, Islam historis (yang senyatanya) kemudian akan menjadi sama dengan Islam normatif (yang semestinya). Apalagi yang dibutuhkan, selain konsistensi dan fleksibilitas, bagi Islam untuk menghadapi tantangan globalisasi saat ini.

0 footprint:

ku tak tau apa isi hatimu, so bicaralah...