ulat dan kupu-kupu

Saya lihat mesra sekali dua makhluk itu, dua ulat yang masih merangkak bersama, kalau merangkak itu bisa dikatakan susah, maka mereka mengalami kesusahan yang sama, berat dijalanai bersama, ya meski kadang harus bersrempetan satu sama lain lantaran jalan yang dilewati sempit, tapi itu namanya masih tetap bersama..

Keduanya selalu bermimpi, suatu saat bisa menjadi kupu-kupu, yang bisa terbang dan tak harus merangkak lagi, karena terbang itu (terlihat) mudah, tidak seperti merangkak, maka apapun akan mereka lakukan untuk mencapai hal itu..

Sekian waktu berjalan, entah atas sebab apa, sepertinya kedua ulat itu tidak bernasib sama, yang satu sudah menjadi kupu-kupu sementara yang lain masih saja menjadi ulat, si kupu-kupu tentunya sudah bisa terbang, bebas..

Kini, yang sudah bisa terbang lantas terbang begitu saja, dan yang merangkak juga tak mau mencoba terbang, meski masih bisa saling menatap, tapi (kata-kata) yang bernama kebersamaan itu sepertinya sudah lenyap. Ya maklum namanya juga kupu-kupu, mana ada yang mau merangkak, wong dia sudah bisa terbang, jadi mana mungkin dia mau merangkak bersama ulat (yang dulu berjuang bersama) yang belum jadi kupu-kupu tadi itu..

Kalau saya jadi ulat-nya mungkin saya akan berkata demikian:
Iya percaya yang sudah menjadi kupu-kupu, terbang saja bebas semaumu, biarkan ulat ini merangkak sendirian..
Toh sayapmu tidak akan pernah kuat kalau harus mengajakku terbang..

0 footprint:

ku tak tau apa isi hatimu, so bicaralah...